PROBLEMATIKA
DAKWAH ISLAM
MAKALAH
Diajukan untuk memenuhi
tugas Bahasa Indonesia
semester satu
Dosesn
Pengampu :
Yuentie Sova
Puspidalia, S.PD, M.PD
Oleh :
Agus
Nanang Arif Efendi / 211013010
Komunikasi
Penyiaran Islam
USHULUDIN
DAN DAKWAH
SEKOLAH
TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
PONOROGO
2014
PENDAHULUAN
Dalam
suatu hadist “ Barang siapa memberikan petunjuk kebaikan, maka baginya akan
mendapatkan ganjaran seperti ganjaran yang telah diterima oleh orang yang
mengikutinya, dan tidak berkurang seditikpun hal itu dari ganjaran orang
tersebut.” ( HR. Muslim ). Dan dakwah
sendiri diharapkan bisa membawa perubahan yang baik bagi para pendengarnya,
dengan kata lain pendengar bisa menyampaikan apa yang telah di dengarnya dari
pendakwah kepada yang lainya.
Tapi beberapa dari pendakwah ada yang kurang
efektif dalam penyajiannya, jadi tentu saja para pendengar sulit menangkap
pokok kandungan yang dimaksudnya. Sehingga pendengar menjadi kurang
memperhatikan apa yang disampaikannya.
Menurut saya,
dakwah adalah seni mengelola orang sehingga dibutuhkan keuletan serta kearifan,
hal tersebut melibatkan unsur rasa atau kelembutan jiwa (perasaan). Dakwah juga
merupakan aplikasi pengelola manusia agar manusia dapat merasakan peranan dan
indahnya Islam.
Dalam dakwah,
kebenaran saja tidak cukup karena masih membutuhkan komunikasi dan seni. Dan
ini semua berkesinambungan dengan bahan dakwah, sudah barang tentu jika
menguasai bahan / tema pokok pembahasannya, pastinya juga menguasai komunikasi
serta pengaplikasian kepada objek yang dituju.
Jika
dianalogikan Islam adalah sebagai air susu, dan pada peradaban sekarang ini air
susu diminum dengan gelas, maka sudah barang tentu agar susu itu dapat diterima
di masyarakat tidaklah disajikan dengan tempurung kelapa.
Ada juga analogi
kongkrit dari pengalaman seseorang, ketika mengajar dia bertanya “tiga di
tambah dua berapa ?” murid-murid menjawab dengan berbagai pemikirannya ada yang
menjawab sembilan ada juga yang menjawab enam. Sang
guru sepontan menjawab “salah”, keesokan harinya murid-murid banyak yang tidak
masuk. Setelah beberapa usaha, satu persatupun murid mulai masuk kembali. Dan
sang gurupun mengubah caranya, ketika pertanyaan yang sama diulang kembali dan
jawabannya tidak sesuai dengan yang sebenarnya, sang guru tidak langsung
menyanggah, tapi memberikan sebuah perumpamaan sehingga sang murid bisa
memahami dan menerimanya. Dan akhirnya para siswa itu berhasil menyelesaikan
sekolahnya.
Sarana adalah
peradaban yang berubah sesuai dengan tingkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi
manusia. Akhirnya, etika akan ikut serta jauh dalam berbagai persoalan
pensikapan dakwah. Etika yang dimaksud adalah etika dakwah, perihal tata krama
dakwah atau adab yang mesti dijunjung tinggi dalam berdakwah, karena sumbernya
dari syari’at.
I.
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN
DAKWAH ISLAM
Tinjauan Etimologi (lughat, Bahasa),
kata “dakwah” berasal dari bahasa Arab, yaitu dari fi’il madhi: (Da’aa - Yad’uu – Da’watan) yang berarti
menyeru, memanggil, mengajak, menjamu.[1]
Dakwah artinya: Penyiaran, propaganda, seruan untuk mempelajari dan mengamalkan
ajaran agama. Dakwah juga berarti suatu proses upaya mengubah suatu situasi
kepada situasi lain yang lebih baik sesuai ajaran Islam atau proses mengajak
manusia kejalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu agama Islam.
Dari tinjauan terminologi (istilah),
banyak ahli atau pakar yang berusaha mendefinisikan dakwah dengan bervariasi
penyajiannya. Para ahli tersebut di antaranya:
1.
HMS. Nasarudin Latif
Dakwah
artinya setiap usaha atau aktivitas dengan lisan atau tulisan yang bersifat
menyeru, mengajak, memanggil manusia lainnya untuk beriman dan menaati Allah
SWT., sesuai dengan garis-garis aqidah dan syari’ah serta akhlak Islamiah.
2.
Syeikh Ali Mahfudz
Dakwah
adalah mengajak (mendorong) manusia untuk mengikuti kebenaran dan petunjuk,
menyeru mereka berbuat kebajikan dan melarang mereka dari perbuatan munkar agar
mereka mendapat kebahagiaan di dunia dan akhirat.
3.
Prof. H.M. Thoha Yahya Omar
Dakwah
ialah mengajak manusia dengan cara bijaksana kepada jalan yang benar sesuai
dengan perintah Tuhan untuk kemaslahatan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat.[2]
Maka,
dari pernyataan diatas, dapat disimpulkan bahwa dakwah adalah suatu
ajakan untuk mengajak umatnya agar melakukan hal yang baik atau mendekatkan
diri kepada allah.
- PARADIGMA
MEKANISTIS DAKWAH ISLAM
Model
mekanistis dalam mengaspirasikan pesan, info, maupun saran, dalam kalangan
ulama’ adalah dakwah yang berbentuk
tabligh, termasuk yang paling lama dan paling banyak dianut sampai sekarang.
Banyak studi yang telah dilakukan, dan banyak buku yang telah diterbitkan
sehingga pengaruhnya sangat kuat dan melua, termasuk di kalangan masyarakat
akademik maupun masyarakat luas.
Penerapan
mekanisme dalam dakwah yang berbentuk tabligh dan khotbah memang dengan mudah
dilakukan. Secara mekanistis, Asep Muhiddin (2002), Ali Aziz (2009) dan
sejumlah penulis lainnya dengan mudah menjabarkan formula Lasswell, bahwa dalam
dakwah terdapat unsur-unsur yang banyak dikenal, yaitu komunikator (pelaksana
dakwah) komunike (pessan dakwah), komunikan (penerima atau khalayak dakwah),
saluran (media dakwah), dan efek umpan balik (efek dakwah). Model seperti ini
sangat mendominasi karya-karya tentang dakwah, baik yang dikembangkan oleh
penulis dari kalangan kajian islam, maupun penulis dari kalangan kajian
komunikasi.
Jadi
dapat dikatakan bahwa dakwah adalah pembicaraan tentang iman, ilmu dan amal
saleh atau pembicaraan tentang akidah, syariah dan akhlak. Dan semua itu
kemudian dikaji dalam kerangka mekanistis, yaitu siapa yang berbicara, kepada
siapa, melalui saluran apa, dan bagaimana efeknya.[3]
- KOMPONEN-KOMPONEN
DAKWAH
Diantara
dari sebagian yang menunjang keberhasilan dakwah adalah memenuhi
komponen-komponennya, seperti:
1.
Subjek
Adanya subjek dakwah (ulama’, da’i, mubaligh), yaitu
orang yang melaksanakan dakwah. Pelaksanaan atau subjek dakwah ini bisa
perseorangan atau kelompok, yang mampu melaksanakan tugas dakwah. Seorang
mubaligh tidak harus lulusan sarjana dakwah atau lulusan pendidikan kader
dakwah, karena lulusan tersebut bukan merupakan modal dasar dalam melaksanakan
dakwah. Sosok subjek dakwah adalah sosok manusia yang mempunyai nilai
keteladanan yang baik dalam segala hal. Setiap orang adalah pemimpin, karena
itu ia akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya kelak ketika
menghadap Allah.
2.
Ruang Lingkup Dakwah
Objek
dakwah / ruang lingkup dakwah harus diketahui agar sesuai dengan tuntutan masyarakat.
Maka dari itu, seorang ulama’ (da’i, mubaligh) perlu mempelajari psikologi
(ilmu jiwa), sosiologi, disamping memperhatikan adat istiadat dan kebudayaan
masyarakat. Dengan mengetahui ruang lingkup atau objek dakwah ini diharapkan
metode dan bahasa yang disampaikan dalam kegiatan dakwah dapat disesuaikan
dengan keadaan tersebut.
3.
Metode Dakwah
Metode dakwah adalah cara bagaimana
materi dakwah dapat diterima oleh objek dakwah dengan baik. Macam-macam metode
dakwah tersebut diantaranya :
a.
Dakwah
bil lisan
Dakwah
ini dilakukan dengan menggunakan lisan, antara lain:
¨ Qoulun
ma’rufun, yaitu dengan berbicara dalam
pergaulannya sehari-hari yang disertai dengan misi agama, yaitu agama Allah,
agama islam, seperti penyebarluasan salam,
mengawali pekerjaan dengan basmallah, mengakhiri pekerjaan dengan
membaca hamdallah, dan sebagainya.
¨ Mudzakarah,
yaitu mengingatkan orang lain jika berbuat salah,
baik dalam ibadah maupun dalam perbuatan.
¨ Nasihatuddin,
yaitu memberi nasihat kepada orang uang tengah
dilanda problem kehidupan agar mampu melaksanakan agamanya dengan baik, seperti
bimbingan serta penyuluhan agama dan sebagainya.
¨ Majelis
ta’lim, seperti pembahasan terhadap bab-bab
dengan menggunakan buku atau kitab dan berakhir dengan dialog.
¨ Penyajian
umum, yaitu menyajikan materi dakwah di depan
umum. Isinya tidak terlalu banyak, tetapi dapat menarik perhatian pengunjung.
¨ Mujadallah,
yaitu berdebat dengan menggunakan argumentasi serta
alasan-alasan yang mendasari argumentasi tersebut dan diakhiri dengan
kesepakatan bersama dengan mengambil satu kesimpulan.
b.
Dakwah
bil kitab
Yaitu
dakwah dengan menggunakan keahlian tulis menulis berupa artikel atau naskah
yang kemuduian dimuat di dalam majalah atau surat kabar, brosur, buletin, buku,
dan sebagainya. Sehingga jangkauannya bisa lebih luas dan dapat dimanfaatkan
dalam waktu yang lebih lama.
c.
Dakwah
dengan alat elektronika
Yaitu
dengan memanfaatkan media elektronika, seperti radio, televisi, tape recorder,
komputer dan sebagainya yang berfungsi sebagai alat bantu.
d.
Dakwah
bil hal
Dakwah
yang dilakukan melalui berbagai kegiatan yang langsung kepada masyarakat
sebagai objek dakwah. Adapun cara melaksanakan dakwah bil hal diantaranya:
¨ Pemberian bantuan berupa dana untuk usaha,
yang bersifat
produktif
maupun konsumtif.
¨ Bersilaturohmi ke lembaga-lembaga,
yayasan, maupun
tempat-tempat yang lain.
¨ Pengabdian kepada masyarakat.
4.
Logistik Dakwah
Adanya
logistik dakwah yaitu dana yang diperlukan dalam rencana pelaksanaan dakwah.
Sumber dana ini dapat diperoleh dari adanya berbagai sumbangan maupun infak.
Sebaiknya, pencarian dana diperlukan pembuatan proposal yang selanjutnya
ditandatangani oleh pihak yang berwenang.
5.
Materi Dakwah
Materi
dakwah ini dapat diberikan menurut situasi dan kondisi objek dakwah. Materi
dakwah diitujukan untuk mengajak orang lain untuk menjalankan agama islam
dengan baik, serta mentauhidkan Allah, dengan bersumber kepada Al-Qur’an dan
sunnah Rasul. Apabila keadaan sudah diketahui, maka seorang da’i atau mubaligh
tinggal menyiapkan materi yang sesuai.
D.
PROBLEMATIKA DAKWAH
Kenyataan di lapangan
menunjukkan bahwa dalam pelaksanaan dakwah sering dijumpai adanya kekurangan,
kesalahan maupun kejanggalan dalam komponen-komponen dakwah, seperti materi
yang tidak sesuai, mubaligh yang kurang menguasai media dakwah, dan sebagainya.
Yang terpenting adalah bagaimana
problematika tersebut dapat segera diatasi dan dipecahkan, sehingga kegiatan
dakwah dapat berjalan secara lancar dan kontinu. Dengan memperbanyak aktivitas
atau kegiatan dakwah secara terus menerus serta banyak belajar dari mubaligh
yang sudah ahli atau terkenal, maka seorang da’i atau mubaligh akan semakin
mengetahui kekurangan dan kelemahan, sehingga dapat memperbaiki dakwah
kedepannya.
Di Era globalisasi dan informasi ini
perubahan masyarakat lebih cepat jika dibandingkan dengan pemecahan dakwah.
Oleh karena itu, setiap kader dakwah harus selalu sadar dan waspada terhadap
perkembangan masyarakat dewasa ini sehingga lebih peka terhadap lingkungan
sekitar.
Berikut ini merupakan inventarisasi
yang cukup penting dari berbagai problematika, yaitu:[4]
1.
Problematika Pemahaman Konsepsi Islam
Tidak sedikit yang masih merasa
bingung mengenai konsepsi islam, tidak
hanya di kalangan umat islam, bahkan dikalangan kaum pergerakan sendiri.
Ketidaktahuan atau kekurangan pemahaman tentang konsepsi tersebut menyebabkan
berbagai kasus kekecewaan bersifat traumatis sehingga menyebabkan macetnya
aktivitas dakwah. Kebanyakan mereka tidak siap mengambil resiko karena
sebelumnya meraka tidak memperhitungkannya.
2.
Problematika Dakwah Yang Bersifat Rutinitas
Masyarakat maupun subjek dakwah telah banyak menyebabkan
keberhasilan aktivitas dakwah, yang bersifat pribadi hingga bersifat
internasional dalam segala segi. Namun program dakwah maupun aktivitas dakwah
terlihat tidak berjalan terus menerus.
3.
Problematika Beban Internal
Tidak sedikit aktivitas
dakwah yang telah membesar, banyak cabangnya serta anggotanya, namun semakin
besar bukannya semakin kuat tetapi semakin lemah. Penyebabnya faktor internal,
yaitu beban yang datangnya dari dalam.
4.
Problematika Aqidah Dan Akhlak Serta Syari’ah
Menyebabkan lahirnya gerakan
sempatan (firqah-firqah) yang yang
sangat mengganggu umat islam. Hal ini menyebabkan kecacatan, baik di bidang
muamalah maupun bidang lainnya. Oleh karena itu sumber islam yang asli yaitu
Al-Qur’anul Karim harus benar-benar dipelihara agar terhindar dari belenggu
kesulitan.
5.
Problematika Ukhuwah Islamiah
Dalam
rangka li-i-laikalimatillah fill ardhi, potensi umat seluruh dunia harus
dilibatkan karena tugas ini tidak dapat dilakukan secara individual atau
golongan-golongan tertentu. Dengan demikia, persaudaraan Islam di seluruh dunia
harus benar-benar berjalan dengan baik.
E.
PENUTUP
Jadi
kesimpulan dari pembahasan diatas adalah:
Ø Dakwah
yaitu suatu ajakan untuk menyeru (mengajak) umatnya agar melakukan hal yang
baik atau mendekatkan diri kepada allah. Masalah yang dibicarakan tidak lepas
tentang iman, ilmu, amal saleh, budi pekerti, adat istiadat, kebudayaan maupun
kebiasaan, dan bisa juga dikatakan suatu pembicaraan tentang akidah, syariah
dan akhlak.
metode
yang digunakan antara lain:
o
Dakwah
Bil Lisan
o
Dakwah
Bil Kitab
o
Dakwah
Dengan Alat Elektronika
o
Dakwah
Bil Hal
Ø Hendaknya seorang da’i atau mubaligh
kembali pada Al-Qur’an dan Hadist guna menjadi dasaran atas dakwahnya.
Ø Dengan memperbanyak aktivitas dakwah
maka perubahan masyarakat pada era globalisasi dan informasi yang sangat cepat
ini bisa diatasi, dan hendaknya selalu waspada terhadap perkembangan masyarakat
dengan lebih peka terhadap lingkungan sekitarnya.
DAFTAR PUSTAKA
Abd. Djaliel, Maman. 1997. Prinsip Dan Strategi Dakwah, Bandung:
Cv. Pustaka Setia.
Arifin,
Anwar. 2011. Dakwah Kontemporer. Yogyakarta:
Graha Ilmu.
[1] Prof. H. Mahmud Yunus, Kamus Arab – Indonesia, Yayasan Penyelenggaraan
Penterjemah/Pentafsiran Al-qur’an, Jakarta, 1973, halaman 127.
[2] Rofi’udin & Maman Abd Djaliel, Prinsip
Dan Strategi Dakwah, (Bandung: Cv Pustaka Setia, 1997) 24-25
[3] Anwar Arifin, Dakwah Kontemporer,
(Yogyakarta: Graha Ilmu,2011) 51
[4] Rofi’udin & Maman Abd Djaliel, Prinsip
Dan Strategi Dakwah, (Bandung: Cv Pustaka Setia, 1997) 54
