.

STRATIFIKASI SOSIAL

Jumat, 16 Mei 2014


STRATIFIKASI SOSIAL
Setiap masyarakat senantiasa mempunyai penghargaan tertentu terhadap hal-hal tertentu dalam masyarakat yang bersangkutan. Kalau suatu masyarakat lebih menghargai kekayaan material daripada kehormatan, misalnya, maka mereka yang lebih banyak mempunyai kekayaan material akan menempati kedudukan yang lebih tinggi apabila dibandingkan dengan fihak-fihak lain.

A.     TERJADINYA LAPISAN MASYARAKAT
Yang biasa menjadi alasan terbentuknya lapisan masyarakat yang terjadi dengan sendirinya adalah kepandaian, tingkat umur (yang senior), sifat keaslian keanggotaan kerabat seorang kepala masyarakat, dan mungkin harta dalam batas-batas tertentu.
Alasan-alasan yang dipakai berlainan bagi tiap-tiap masyarakat. Pada masyarakat yang hidupnya berburu hewan, alasan utama adalah kepandaian berburu. Sedangkan pada masyakat yang telah menetap dan bercocok, maka kerabat pembuka tanah (yang dianggap asli) dianggap sebagai orang-orang yang menduduki lapisan tinggi. Hal ini dapat dilihat misalnya pada masyarakat batak,  dimana marga tanah, yaitu marga yang pertama-tama membuka tanah, dianggap mempunyai kedudukan yang tinggi.
Untuk meneliti terjadinya proses-proses lapisan masyarakat, dapatlah pokok-pokok sebagai berikut dijadikan pedoman :
1.         Sistem lapisan mungkin berpokok pada sistem pertentangan dalam masyarakat. Sistem demikian hanya mempunyai arti yang khusus bagi masyarakat-masyarakat tertentu yang menjadi obyek penyelidikan .
2.         Sistem lapisan dapat dianalisis dalam ruang lingkup unsur-unsur sebagai berikut.
a.         Distribusi hak-hak istimewa yang obyektif seperti misalnya penghasilan, kekayaan, keselamatan (kesehatan, laju anka kejahatan), wewenang dan sebagainya.
b.        Sistem pertanggaan yang diciptakan para warga masyarakat ,
c.         Kriteria sistem pertentangan, apakah didapat berdasar kwalitas pribadi, keanggotaan kelompok kerabat tertentu, milik wewenag atau kekuasaan.
d.        Lambing-lambang kedudukan, seperti tingkah laku hidup, cara berpakaian , perumahan, keanggotaan pada suatu organisasi dan selanjutnya.
e.         Mudah atau sukarnya bertukar kedudukan.
f.          Solidaritas antara individu-individu atau kelompok-kelompok yang menduduki kedudukan yang sama dalam sistem social masyarakat ;
i.                Pola-pola interaksi-interaksi (struktur klik, keanggotaan organisai, perkawinan dan sebagainya),
ii.              Kesamaan atau ketidaksamaan sistem kepercayaan, sikap dan nilai-nilai,
iii.             Kesadaran akan kedudukan masing-masing,
iv.            Akivitas sebagi organ kolektif.

B.     SIFAT SISTEM LAPISAN MASYARAKAT
            Di dalam uraian tentang teori lapisan senantiasa dijumpai istilah kelas (social class). Penjumlahan kelas-kelas dalam masyarakat disebut class-system. artinya, semua orang dan keluarga yang sadar akan kedudukan mereka itu deketahui dan diakui oleh masyarakat umum.
                        Maka pengertian kelas adalah parallel dengan pengertian lapisan tanpa membedakan apakah dasar lapisan itu faktor uang, tanah, kekuasaan atau dasar lainnya.
                        Ada pula yang menggunakan istilah kelas hanya untuk lapisan yang berdasarkan atas unsur ekonomis. Sedangka lapisan yang berdasarkan atas dasar kehormatan dinamakan kelompok kedudukan (setatus group).
                        Max Weber mengadakan pembedaan, adanya kelas yang bersifat ekonomis dibaginya lagi ke dalam sub kelas yang bergerak dalam bidang ekonomis dengan menggunakan kecakapannya, disamping itu, Max weber masih menyebutkan adanya golongan yang mendapat kehormatan khusus dari masyarakat dan dinamakan stand.
                        Apabila pengertian kelas ditinjau secara lebih mendalam, maka akan dapat dijumpai beberapa kriteria yang tradisional, yaitu:
1.      Besar jumlah anggota-anggotanya.
2.      Kebudayaan yang sama, yang menentukan hak-hak dan kewajiban-kewajiban warganya,
3.      Kelanggengan,
4.      Tanda/lambing-lambang yang merupakan ciri khas,
5.      Batas-batas yang tegas (bagi kelompok itu, terhadap kelompok lain)
6.      Antagonisme tertentu.

Sehubungan dengan kriteria tersebut di atas, kelas memberikan fasilitas-fasilitas hidup yang tertentu (life-chances) bagi anggotanya. Misalnya, keselamatan atas hidup dan harta benda, kebebasan, standar hidup yang tinggi dan sebagainya, yang dalam arti-arti tertentu tidak dipunyai oleh para warga kelas-kelas lain. Kecuali itu, kelas juga mempengaruhi gaya dan tingkah-laku hidup masing-masing warganya (life-stayle).

C.     MOBILITAS SOSIAL (SOCIAL MOBILITY)

1.      Pengertian Umum dan Jenis-Jenis Gerak Sosial.
Gerak social atau social mobility adalah suatu gerak dalam struktur social (social structure) yaitu pola-pola tertentu yang mengatur organisasi suatu kelompok sosial . struktur sosial mencakup sifat-sifat hubungan antara individu dalam kelompok dan hubungan antara individu dengan kelompoknya.
Tipe-tipe gerak sosial yang prinsipil ada dua macam yaitu gerak sosial yang horizontal dan vertikal. Gerak sosial horizontal merupakan peralihan individu atau obyek-obyek sosial lainnya dari suatu kelompok sosial ke kelompok sosial lainnya yang sederajat.
Contohnya adalah, seseorang yang beralih kewarganegaraan, beralih pekerjaan, yang sederajat, atau gerak obyek-obyek sosial misalnya radio, mode pakaian, ideology dan lain sebagainya. Dengan adanya gerak sosial yang horizontal, tidak terjadi perubahan dalam derajat kedudukan seseorang ataupun suatu obyek sosial.
Prinsip-prinsip umum yang sangat penting bagi gerak sosial vertikal adalah sebagai berikut:
a.                   Hampir tidak ada masyarakat yang sifat sistem lapisannya mutlak tertutup, di mana sama sekali tidak ada gerak sosial yang vertikal.
Contoh: warga kasta Brahmana berbuat kesalahan besar dapat turun kastanya atau sebaliknya dari rendahan dapat naik ke kasta yang lebih tinggi, misalnya melalui perkawinan.
b.                  Betapapun terbukanya sistem lapisan dalam suatu masyarakat tak mungkin gerak sosial yang vertikal dilakukan dengan sebebas-bebasnya, sedikit banyak akan ada hambatan-hambatan.
c.                   Gerak sosial vertikal yang umum berlaku bagi semua masyarakat tidak ada, setiap maasyarakat mempunyai ciri-ciri sendiri bagi gerak sosialnya yang vertikal.
d.                  Laju gerak sosial vertikal yang disebabkan oleh faktor-faktor ekonomis, politik serta pekerjaan adalah berbeda. Tidak ada kecenderungan yang kontinu perihal bertambah atau berkurangnya, hal ini berlaku bagi suatu negara, lembaga sosial yang beasar dan juga bagi sejarah manusia.

Gerak sosial vertikal dimaksudkan sebagai perpindahan individu atau obyek sosial dari suatu keduduak sosial ke keduduakan lainnya yang tidak sederajat. Sesuai dengan arahnya, maka terdapat dua jenis gerak sosial yang vertikal, yaitu yang naik (social-climbing) dan yang turun (social sinking). Gerak sosial vertikal yang naik mempunyai dau bentuk utama, yaitu:
a.                   Masuknya individu-individu yang mempunyai kedudukan rendah ke dalam kedudukan yang lebih tinggi,
b.                  Pembentukan suatu kelomopok baru, yang kemudian ditempatkan pada derajat yang lebih tinggi dari kedudukan individu-individu pembentuk kelompok tersebut.

Gerak sosial vertikal yang menurun mempunyai dua bentuk utama, yaitu:
a.                   Turunnya kedudukan individu ke kedudukan yang lebih rendah derajatnya.
b.                  Turunnya derajat sekelompok individu yang dapat berupa disintegrasi kelompok sebagai kesatuan.

Kedua bentuk tersebut diatas dapat diibaratkan sebagai seorang penumpang kapal laut yang jatuh kelaut, atau sebagai kapal yang tenggelam bersama seluruh penumpangnya atau apabila kapal itu pecah.

2.      Tujuan Penelitian Gerak Sosial
Para sosiolog meneliti gerak sosial untuk memdapatkan keterangan-keterangan perihal keteraturan dan keluwesan struktur sosial. Para sosiolog mempunyai perhatian yang khusus terhadap kesulitan-kesulitan yang secara relative dialami oleh individu-individu dan kelompok-kelompok sosial dalam mendapatkan keduduakan yang terpandang oleh masyarakat dan yang merupakan obyek dari suatu persaingan.
Anak pengusaha misalnya, mempunyai peluang yang lebih baik dan lebih besar daripada anak seorang tukang sapu jalan. Akan tetapi kebudayaan dalam masyarakat tidak menutup bagi anak tukang sapu untuk memperoleh keduduakan yang lebih tinggi dari kedudukan semula dipunyainya. Bahkan sebaliknya, sifat terbuka dalam sistem lapisan, dapat mendorong dirinya untuk mencapai kedudukan yang lebih tinggi dan lebih terpandang dalam masyarakat.

3.      Saluran Gerak Sosial Vertikal
Menurut Pitirim A Sorokin, gerak sosial vertikal mempunyai saluran-saluran dalam masyarakat. Proses gerak sosial vertikal melalui saluran tadi disebut social circulation. Saluran yang terpenting adalah angkatan bersenjata, lembaga keagamaan, sekolah, organisasi politik, ekonomi dan keahlian.
 Angkatan bersenjata memainkan peranan penting dalam masyarakat dengan sistem militerisme, atau yang berada dalam keadaan perang, baik perang yang melawan musuh dari luar maupun perang saudara. Dalam keadaan seperti itu, suatu negara tentu akan menghendaki dan berusaha agar keluar sebagai pemenang.
Organisasi-organisasi keahlian seperti himpunan sarjana ilmu pengetahuan tertentu, persatuan sastrawan, organisasi para pelukis, dan seterusnya, merupakan wadah yang menampung individu-individu dengan masing-masing keahliannya untuk diperkenalkan kepada masyarakat.
Sudah tentu ada saluran-saluran lain dalam masyarakat misalnya perkawinan. Seseorang yang menikah dengan seseorang yang berasal dari lapisan atas, dapat ikut naik kedudukannya. Akan tetapi hal yang sebaliknya juga mungkin terjadi apabila dia menikah dengan seseorang yang lebih rendah kedudukannya dalam masyarakat.




REFRENSI
Soekanto,         Soerjono.         Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta: P.T. RajaGrafindo Persada, 1990-1999.




Share this article :
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. collections - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Inspired by Sportapolis Shape5.com
Proudly powered by Blogger