ALIRAN QODARIYAH DAN
JABARIAH
I.
QODARIYAH
1. Pengertian dan Asal Usul Qadariyah
Kata Qadariyah berasal dari bahasa Arab qadara yang berarti
kemampuan dan kekuatan. Nama Qadariyah juga berasal dari pengertian bahwa
manusia mempunyai qudrah atau kemampuan untuk melakukan sesuatu sesuai
dengan kehendaknya sendiri, bukan berasal dari pengertian bahwa manusia
terpaksa tunduk pada qadar atau ketentuan Allah. Dalam istilah Inggrisnya paham
ini dikenal dengan nama free will dan free act.
Tidak ada keterangan pasti kapan paham ini muncul dalam sejarah
perkembangan teologi Islam. Tetapi menurut keterangan para ahli teologi Islam,
paham qadariyah pertama kali dibawa oleh seorang bernama Ma’bad al-Juhani yang
berasal dari Bashrah dan temannya bernama Ghailan al-Dimasyqi. Menurut Ibnu Nabatah dalam bukunya syarh al-‘uyun, Ma’bad al-Juhani dan
Ghailan mengambil paham ini dari seorang Kristen yang masuk Islam di Iraq. Dan menurut al-Zahabi, Ma’bad
adalah seorang tabi’I yang baik, tetapi ia memasuki kawasan politik dan memihak
‘Abd al-Rahman Ibn Asy’as dalam menentang kekuasaan Bani Umayyah. Ma’bad mati
terbunuh dalam tahun 80 H, Ia mati dibunuh oleh al-Hajjaj, seorang gubernur dari Bani Umayyah yang terkenal kejam
dan berdarah dingin.
Setelah kematian Ma’bad, Ghailan terus menyebarkan paham qadariyah di
Damaskus, tetapi ini tidak berjalan lancar karena mendapat tantangan dari
khalifah ‘Umar Ibn ‘Abd al-‘Aziz. Baru setelah kematian ‘Umar ia melanjutkan
kegiatannya yang sempat terhenti pada masa itu. Tapi akhirnya ia mati dihukum
bunuh oleh Hisyam ‘Abd al-Malik.Sebelum dilaksanakan hukuman tersebut
diadakanlah debat antara Ghailan dan Awza’i yang langsung dihadiri oleh Hisyam
mengenai paham yang dibawa Ghailan.
Qadariyah adalah sebuah firqah yang mengingkari ilmu Allah terhadap
perbuatan hambaNya dan mereka berkeyakinan bahwa Allah belum membuat ketentuan
terhadap makhlukNya.Mereka berpendapat bahwa tidak ada takdir, mereka
mengingkari iman dengan qadha dan qadar. Mereka juga mengatakan bahwa Allah
tidak menentukan dan tidak mengetahui sebuah perkara sebelum terjadi, bahkan
Allah baru mengetahui sebuah perkara setelah terjadi. Dalam kitab
Al-Milal wa Al-Nihal,
pembahasan masalah Qadariyah disatukan dengan pembahasan tentang
doktrin-doktrin Mu’tazilah, sehingga perbedaan antara kedua aliran ini kurang
begitu jelas. Ahmad Amin juga menjelaskan bahwa doktrin qadar lebih luas di
kupas oleh kalangan Mu’tazilah, sebab faham ini
juga dijadikan salah satu
doktrin Mu’tazilah. Akibatnya, sebahagian orang juga menamakan
Qadariyah dengan Mu’tazilah karena kedua aliran ini sama-sama percaya bahwa
manusia mempunyai kemampuan untuk mewujudkan tindakan tanpa campur tangan Tuhan.
2.
Paham dan Doktrin Qadariyah
Hampir semua paham-paham
qadariyah bertentangan dengan apa yang dipahami ahlu al-sunnah wa al-jamaah.
Adapun paham yang dikembangkan kaum qadariyah diantaranya adalah:
a)
Meletakkan posisi manusia sebagai makhluk yang merdeka dalam tingkah laku
dan semua perbuatan, baik dan buruknya. Mereka meyakini bahwa manusia mempunyai
kekuatan untuk menentukan nasibnya tanpa ada intervensi dari Allah Swt. Jadi
manusia mendapatkan surga dan neraka karena kehendak mereka sendiri bukan
karena taqdir. Paham ini merupakan ajaran terpenting dalam keyakinan qadariyah.
b)
Kaum qadariyah mengatakan bahwa Allah itu Esa, dalam artian bahwa Allah
tidak memiliki sifat-sifat Azaly, seperti ilmu, kudrah dan hayat. Menurut
mereka Allah mengetahui semuanya dengan zatNya, dan Allah berkuasa dengan
zatNya, serta hidup dengan zatNya, bukan dengan sifat-sifat qadimNya tersebut.
Mereka juga mengatakan, kalau Allah punya sifat qadim tersebut, maka sama
dengan mengatakan bahwa Allah lebih dari satu.
c)
Takdir merupakan ketentuan Allah SWT terhadap hukum alam semesta sejak
zaman azali, yaitu hukum yang dalam Al-Qur’an disebut sunnatullah, seperti matahari terbit dari timur,
rotasi bumi dll. Tidak termasuk perbuatan dan tingkah laku manusia.
d)
Kaum qadariyah berpendapat bahwa akal manusia mampu mengetahui mana yang baik dan mana yang
buruk, walaupun Allah tidak menurunkan agama. Agama tidak menyebabkan sesuatu
menjadi baik karena diperintahkannya, dan tidak pula menjadi buruk karena
dilarangnya. Bahkan perintah atau larangan agama itu justru mengikuti keadaan
segala sesuatu, kalau sesuatu itu buruk, tentu saja agama melarangnya, begitu
sebaliknya.
Sebenarnya dalam golongan qadariyah sendiri ada perbedaan pendapat dan
pemahaman seputar masalah taqdir. Ada golongan qadariyah yang berpendapat bahwa
kebaikan berasal dari Allah Ta’ala, sedangkan keburukan berasal dari manusia
itu sendiri. Pemahaman ini sama dengan menganggap ada dua pencipta. Ada yang
berpendapat bahwa semua kebaikan dan keburukan penciptanya adalah pelakunya
sendiri. Sebagian golngan qadariyah lainnya menyebutkan bahwa setelah Allah
menciptakan makhluk, lalu Allah menciptakan kemampuan pada makhluk tersebut
untuk berbuat sesuai kemauannya tanpa ada pengaturan lagi dari Allah. Pemahaman
ini berarti setelah Allah menciptakan alam semesta Allah menganggur, hanya
menonton kejadian yang terjadi di alam.
Karena pendapat dan pemahaman-pemahaman seperti inilah muncul celaan-celaan
terhadap qadariyah. Sebagaimana Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar r.a, ia
berkata, "Rasullah saw. bersabda, “Qadariyah adalah majusi ummat ini.
Jika mereka sakti jangan kalian jenguk dan jika mereka mati jangan kalian
saksikan jenazahnya," (Hasan, Silsilah Jaami' ash-Shaaghiir [4442]).
Ibnu Abi 'Izz al-Hanafi dalam kitab al-Aqidah ath-Thahaawiyah (hal.524)
berkata, "Akan tetapi penyerupaan mereka dengan Majusi sangatlah nyata.
Bahkan keyakinan mereka lebih buruk dari majusi. Karena Majusi meyakini adanya
dua pencipta sedangkan qadariyah meyakini adanya banyak pencipta."
Dalam
kitab Al Ibana al-Kubra Li Ibni Batha, disebutkan bahwa Imam Al- Au'zai
mengatakan :
القدرية
خصماء الله عز وجل في الأرض
"Qadariyyah
adalah musuh Allah di dunia"
Yang dimaksud
musuh Allah di sini adalah musuh mengenai taqdir Allah, karena taqdir Allah
terdiri dari kebaikan dan keburukan. Demikian pula perbuatan manusia terdiri
dari dua macam yaitu baik dan buruk.
Dalam kitab
As-Sunnah, Ibn Abi 'Ashim meriwayatkan dari Sa'ad bin Abd al-Jabbar,
katanya: "Saya mendengar Imam Malik bin Anas berkata: Pendapat saya
tentang kelompok Qadariyyah adalah, mereka itu disuruh bertaubat. Apabila tidak
mau, mereka harus dihukum mati".
Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa pemahaman
seperti kelompok Qadariyyah itu sesat dan menyesatkan. Karena itu kaum muslimin
hendaklah berhati-hati terhadap orang atau kelompok yang memiliki pendapat
seperti mereka. Allah yang Maha Suci, tidak mungkin kekuasaan-Nya
ditembus oleh sesuatu tanpa kehendak-Nya. Memang seorang hamba memiliki
keinginan dan kehendak, akan tetapi semua itu tetap mengikut kehendak dan
keinginan Allah. Manusia memiliki kebebasan untuk berbuat, namun kebebasan yang
mengikuti kehendak dan keinginan yang memberi kebebasan yaitu Allah.
3. Dalil-dalil yang menjadi dasar paham Qadariyah
Ada beberapa dalil al-Quran yang dijadikan landasan untuk mendukung
paham-paham Qadariyah. Dalil-dalil tersebut diantaranya:
a)
QS. al-Kahfi ayat 18
Yang Artinya: dan Katakanlah!! Kebenaran itu datangnya
dari Tuhanmu, Maka Barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan
Barangsiapa yang ingin (kafir) Biarlah ia kafir".
b)
QS. Fussilat
ayat 40
Artinya:
perbuatlah apa yang kamu kehendaki;
Sesungguhnya Dia Maha melihat apa yang kamu kerjakan.
c) QS. Ali Imran ayat 164
Artinya: dan
mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), Padahal kamu telah
menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan
Badar), kamu berkata: "Darimana datangnya (kekalahan) ini?"
Katakanlah: "Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri". Sesungguhnya Allah
Maha Kuasa atas segala sesuatu.
d)
QS. al-Ra’d ayat 11
Artinya:
Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah
keadaan mereka sendiri.
II.
JABARIYAH
1.
Pengertian dan asal-usul Jabariyah
Nama jabariyah berasal dari kata jabara
yang berarti memaksa. Dalam istilah Inggrisnya paham ini disebut fatalism atau
predestination. Dalam kontek pemikiran kalam, istilah jabariyah
diartikan bahwa manusia makhluk yang terpaksa di hadapan Tuhan.
Menurut Syahrastani, Jabariyah adalah
paham yang menafikan perbuatan dari hamba secara hakikat dan menyerahkan
perbuatan tersebut kepada Allah Swt. Artinya, manusia tidak punya andil sama
sekali dalam melakukan perbuatannya, Tuhanlah yang menentukan segala-galanya.
Paham Jabariyah ini dalam sejarah teologi
Islam ditonjolkan pertama kali oleh
al-Ja’d Ibn Dirham. Tetapi yang mengembangkannya kemudian adalah Jahm Ibn Safwan dari
Khurasan. Jahm Ibn Safwan merupakan
pendiri golongan Jahmiyah dalam kalangan Murji’ah. Ia ikut dalam
gerakan melawan kekuasaan Bani Umayyah. Dalam perlawanan itu Jahm dapat
ditangkap dan kemudian dihukum mati di tahun 131 H. Selain dua tokoh tersebut,
ada satu nama lagi yang cukup dikenal di kalangan Jabariyah, yaitu al-Husein
Ibn Mahmud al-Najjar, seorang tokoh dari golongan Jabariyah moderat. Paham yang
dibawa tokoh-tokoh Jabariyah ini adalah lawan ekstrim dari paham yang
dianjurkan Ma’bad dan Ghailan.
Mengenai
kemunculan paham Al-Jabar ini, para ahli sejarah pemikiran mengkajinya melalui
pendekatan geokurtural bangsa Arab. Di antara ahli yang dimaksud adalah Ahmad
Amin. Ia mengembangkan bahwa kehidupan bangsa Arab yang di kungkung oleh gurun
pasir Sahara memberikan pengaruh besar kedalam cara hidup mereka.
Ketergantungan mereka terhadap alam Sahara yang ganas telah memunculkan sikap
penyerahan diri terhadap alam.
Sebenarnya benih-benih paham al-jabar sudah muncul jauh sebelum kedua tokoh di atas, yang terlihat dalam pristiwa sejarah berikut ini.
Sebenarnya benih-benih paham al-jabar sudah muncul jauh sebelum kedua tokoh di atas, yang terlihat dalam pristiwa sejarah berikut ini.
a.
Suatu ketika Nabi
menjumpai sahabatnya yang sedang bertengkar dalam masalah takdir Tuhan. Nabi
melarang memperdebatkannya, agar terhindar dari kekeliruan penafsiran tentang
ayat-ayat Tuhan mengenai takdir.
b.
Khalifah Umar bin
Khatab pernah menangkap seseorang yang ketahuan mencuri. Ketika diintrogasi,
pencuri itu berkata “Tuhan telah menentukan aku mencuri.” Mendengar ucapan itu,
Umar marah sekali dan menganggap orang itu telah berdusta kepada Tuhan. Oleh
karena itu, Umar memberi dua jenis hukuman kepada pencuri itu. Pertama, hukuman
potong tangan karena mencuri. Kedua, hukuman dera karena menggunakan dalil
takdir Tuhan.
c.
Khalifah Ali bin
Abi Thalib seusai perang shiffin ditanya oleh seorang tua tentang qadar
(ketentuan) Tuhan dalam kaitannya dengan pahala dan siksa. Orang tua itu
bertanya, “Bila perjalanan (menuju perang shiffin) itu terjadi dengan qadha dan
qadar, tidak ada pahala sebagai balasannya.” Ali menjelaskan bahwa qadha dan
qadar bukanlah paksaan Tuhan. Ada pahala ada siksa sebagai balasan amal
perbuatan.
Dalilnya sebagai
berikut :
“Allah menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat”
“Allah menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat”
(Q.S. Ash-Shaffat
[37]:96)
“Bukanlah engkau yang melontar ketika melontar (musuh), tetapi Allah lah yang melontar mereka”
“Bukanlah engkau yang melontar ketika melontar (musuh), tetapi Allah lah yang melontar mereka”
(Q.S. Al-Anfal
[8]:17)
“Kamu tidak menghendaki, kecuali Allah menghendakinya”
“Kamu tidak menghendaki, kecuali Allah menghendakinya”
(Q.S. Al-Insan
[76]:30)
2.
Para Pemuka Jabariyah dan Doktrin-Doktrinnya
Menurut al-Syahrastani, Jabariyah dapat dikelompokan menjadi dua bagian,
kelompok ekstrim dan moderat. Di antara tokoh-tokoh Jabariyah ekstrim adalah
Jahm Ibn Safwan dan Ja’ad Ibn Dirham. Tokoh dari kalangan moderat nama al-Hasan
Ibn Muhammad al-Najjar. Dari tokoh-tokoh ini lahir beberapa kelompok dalam
aliran Jabariyah, diantaranya adalah:
1)
Kelompok Jahmiyah
Mereka adalah para pengikut Jahm Ibn
Safwan, yang kebid’ahan dan ajarannya muncul di Khurasan. Kelompok ini termasuk
dalam kelompok ekstrim Jabariyah.Pada akhir kekuasaan Bani Umayyah, Jahm
akhirnya dibunuh oleh Salam Ibn Ahwaz al-Mazini di kota Moru, salah satu kota
paling terkenal di Khurasan. Diantara doktrin kelompok Jahmiyah ini adalah:
a)
Allah tidak memiliki sifat-sifat azaly, karena hal ini akan menjadikan
Allah serupa dengan makhluk. Pendapat ini sama
dengan apa yang dikemukakan oleh Mu’tazilah.
b)
Bid’ah jabr. yaitu pernyataan bahwa manusia tidak mempunyai kemampuan dan
daya upaya sama sekali, bahkan semua kehendaknya muncul karena dipaksa oleh
Allah Swt.
c)
Bid’ah irja’, yaitu bahwa iman cukup hanya dengan ma’rifat. barang siapa
yang inkar di lisan maka hal tersebut tidak membuatnya kafir sebab ilmu dan
ma’rifat tidak bisa lenyap karena ingkar, dan keimanan tidak berkurang dan
semua hamba setara dalam keimanannya serta iman dan kufur hanya dalam hati
tidak dalam perbuatan.
d)
Mereka berpendapat bahwa surga dan neraka, serta penduduk yang ada di
dalamnya tidak kekal.
e)
Kaum Jahmiyah juga mengatakan bahwa al_Quran adalah makhluk Allah. Pendapat
itu merupakan dampak dari tidak mengakui sifat Allah. Karena Allah tidak
bersifat kalam , maka al-Quran itu bukanlah kalamullah yang qadim.
2)
Kelompok Najjariyah
Mereka adalah pengikut Husein Ibn
Muhammad an-Najjar. Kelompok ini termasuk kelompok moderat. Najjariyyah juga
terbagi menjadi beberapa kelompok kecil (Barghutsiyah, Za’faraniyah dan
Mustadrikah), tetapi mereka tidak berbeda dalam prinsip-prinsip pokok dalam
aliran Jabariyah. Diantara doktrin-doktrin Najjariyah adalah:
a)
Mereka berpendapat bahwa Tuhanlah yang menciptakan perbuatan-perbuatan
manusia, baik dan buruknya, tetapi manusia mempunyai andil atau peran dalam
perwujudan perbuatan-perbuatan itu.
b)
Tuhan tidak dapat(mustahil)
dilihat di akhirat. Akan tetapi, An-Najjar menyatakan bahwa Tuhan dapat saja
memindahkan potensi hati (ma’rifat) pada mata sehingga
manusia dapat melihat Allah.
3)
Kelompok Dhirariyah
Aliran al-Dhirariyah juga merupakan salah satu daripada aliran
al-Jabariyyah yang dipelopori oleh Dirar bin ‘Amru al-Kufi di akhir
pemerintahan Bani Umayyah. Pemikiran yang dibawa oleh Dhirar ini juga dikatakan
aliran yang moderat sebagaimana aliran al-Najjariyah mengenai konsep kasb.
Menurut pehaman ini Tuhan dan manusia bekerjasama dalam mewujudkan
perbuatan-perbuatan manusia. Manusia tidak semata-mata dipaksa melakukan
perbuatan mereka, tidak hanya merupakan wayang
yang digerakkan dalang. Walaupun
pada hakikatnya setiap perbuatan manusia itu adalah diciptakan oleh Allah Swt.
Mengenai ru’yat Tuhan di akhirat, Dhirar mengatakan bahwa Tuhan dapat
dilihat di akhirat melalui indera keenam. Ia juga berpendapat bahwa hujjah yang
dapat diterima setelah Nabi adalah ijtihad. Hadis ahad tidak dapat dijadikan
sumber dalam menetapkan hukum.
3.
Dalil-dalil yang menjadi dasar paham Jabariyah
Paham-paham yang dikembangkan Jabariyah
tetap didasarkan kepada ayat-ayat al-Quran. Ayat-ayat tersebut diantaranya
adalah:
§ QS al-An’am ayat 112
Artinya:
niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak
mengetahui.
§ QS al-Shaffat ayat 96
Artinya: Padahal
Allah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu".
§ QS al-Hadid ayat 22
Artinya: tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi
dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab
(Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu
adalah mudah bagi Allah.
§ QS al-Anfal ayat 17
Artinya:
Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang
membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang
melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar.
§
QS
al-Insan ayat 30
Artinya:
dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki
Allah.Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.
Setelah
melihat ayat-ayat yang menjadi sandaran bagi kaum Qadariyah dan Jabariyah di
atas, maka tidak mengherankan kalau dua paham ini masih tetap berkembang dalam
kalangan umat Islam, walaupun pelopor-pelopor paham ini sudah tiada. Dalam
sejarah teologi Islam, selanjutnya paham
Qadariyah dianut oleh kaum Mu’tazilah, sedangkan paham jabariyah, dilanjutkan
oleh Asy’ariyah.
SUMBER
http://filsafatcoy.blogspot.com/2013/05/qadariyah-dan-jabariyah.html,
diakses tanggal 19 mei 2014, jam : 19.30 Wib
http://haritscerdas.blogspot.com/, diakses
tanggal 19 mei 2014, jam : 19.30 Wib
Oleh :
Agus Nanang Arif Efendi/211013010
