Menyikapi Pemurtadan & Kristenisasi
P E N G A N T A R
Pemurtadan
dan kristenisasi merupakan satu masalah besar. Dihancurkannya pendidikan islam
lewat sistem buatan orientalis. Mereka itu hakikatnya bukan sekedar memusuhi umat
islam, tetapi adalah memusuhi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Segencar dan
sehebat apapun, mereka akan dilibas oleh kekuatan Allah Yang Maha Kuat. Oleh
karena itu, artikel ini hanya sekedar mengingatkan kepada umat Islam, jangan
sampai lemah.
“janganlah kamu bersikap lemah,
dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang
paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (Ali Imran:
139)
Mengingatkan sesama muslim adalah tujuan
kami, harapannya akan tercipta suasana kesadaran yang pas, yang kemudian akan
tepat dalam melangkah. Mudah-mudahan Allah Subhanahu Wa Ta’ala meridhai,
sehingga bermanfaat bagi kami,bagi keluarga seiman dan setaqwa, serta umat Islam
pada umumnya. Amiin.
A. Munafiq
Orang
minafiq adalah orang yang menampakkan dirinya sebagai orang beriman namun
sebenarnya memendam kekafiran dan rasa benci terhadap Islam di dalam hati.
Mereka di akhirat nanti akan berada di tingkatan paling bawah dari neraka,
sebagaimana firman Allah : “sesungguhnya orang-orang munafiq itu
(ditempatkan) pada tingkatan paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali
tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.”(An-Nisaa’: 145)
Imam
Ibnu Katsir menjelaskan, “Allah Ta’ala berfirman dengan mengingkari kaum
munafiq dalam persahabtan di dalamn batin dengan orang-orang kafir, sedangkan
mereka orang-orang (munafiq) pada perkaranya itu sendiri tidak bersama kafirin
dan tidak pula bersama Mukminin. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,
“mereka (orang
munafiq) dalam keadaan ragu-rgu antara yang demikian (iman atau kafir). Barang
siapa yang disesatkan Allah, maka kamu
sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya.”(An-Nisaa’:
143)
Dalam
firman Allah ini, “Tidaklah kamu perhatiakan orang-orang yang menjadikan
suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman?” yakni, orang-orang Yahudi yang
dijadikan pemimpin dan teman akrab oleh orang-orang munafiq dalam batinnya.
Allah berfirman, orang-orang itu bukan dari golngan kamu dan bukan pula dari
golongan mereka.” Artinya, mereka yang munafiq itu sebenarnya bukanlah termasuk
golonganmu wahai ornag-orang yang beriman, dan tidak pula termasuk golongan
Yahudi yang mereka jadikan pemimpin atau teman akrab itu [1]
Kaum munafiq adalah musuh terbesar Islam yang sangat berbahaya
bagi kaum Muslimin, diantara tindakan mereka :
1.
Yang
paling berbahaya, persekongkolan mereka dengan Yahudi dan Nasrani untuk
menyerang Islam. Pada surat Al-Hasyr: 11 dan surat Al-Mujadilah: 14,
di sana telah dibongkar langsung oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang
kebusukan tingkah mereka.
2.
Yang
paling buruk, menolak berhakim kepada syari’at Allah, tetapi berhakim kepada thaghut.
Pada surat (An-Nisaa’: 60-63; An-Nur: 47-50), thaghut ialah orang yang
selalu memusuhi Nabi dan kaum Muslimin. Serta orang yang menentapkan hukum
secara curang menurut hawa nafsu.
“Sesungguhnya
jawaban orang-orang Mukmin bila mereka dipanggil oleh Allah dan Rasul-Nya agar
Rasul mengadili di antara mereka ialah ucapan, ‘kami mendengar dan kami patuh’.
Dan mereka itulah ornag-orang yang beruntung.” (An-Nur:
51)
B. Metode menghadapi orang munafiq
Dalam
surat At-Taubah disebut surat Al-Fadhihah karena surat itu isinya membongkar
keburukan orang-orang munafiq, di antaranya :
1.
Tidak
ikut berjihad, mereka lebih mementingkan dunia. (At-Taubah: 86-87)
2.
Mengadu
domba, marah, dan memfitnah. (At-Taubah: 47-48)
3.
Mencela
sistem Rasulullah dalam pembagian harat, mereka rela dan marah tergantung
kepentingan dunia mereka. (At-Taubah: 58)
4.
Menyakiti
Rasulullah Shalallallahu Alaihi wa Sallam. (At-Taubah: 61)
5.
Minta
maaf atau keridhaan Rasulullah dengan sumpah palsu, padahal Allah dan Rasul-Nya
itu yang lebih patut untuk mereka cari keridhaannya. (At-Taubah: 62)
6.
Memerintahkan
kemungkaran dan mencegah kebaikan, serta pelit dalam berinfaq di jalan Allah.
(At-Taubah: 67)
7.
Mengingkari
janji. (At-Taubah: 75-77)
8.
Mencela
dan mencibir mukminin dalam segala hal. (At-Taubah: 79)
9.
Memeandang
berinfak itu suatu bentuk yang merugikan, dan mereka menunggu-nunggu datangnya
marabahaya atas orang-orang Mukmin. (At-Taubah: 98)
10.
Al-Qur’an
tidak menambah pada mereka, kecuali hanya menambah pada kekafiran di atas
kekafiran yang telah ada pada mereka. (At-Taubah: 124-125)
11.
Berpaling
dan lari dari kebenaran. (At-Taubah: 127)
Sehingga
:
a) Allah memerintahkan jihad dan bersikap
keras terhadap mereka, “hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir
dan orang-orang munafiq itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat
mereka ialah Neraka Jahanam. Dan itulah tempat kembali yang seburuk-buruknya.” (At-Taubah:
73).
Sementara
itu Allah Subhanahu wa Ta’ala memerntahkan bersikap lunak dan hormat
terhadap sesama Mukmin.
b) Tidak memintakan ampun bagi orang-orang
munafiq karena mereka tidak berhak dimintakan ampun. At-Taubah: 80 dan
Al-Munaafiquu: 6)
Sebaliknya,
Allah memerintahkan Nabi Shallallahu Alaihi wa Salam dan orang-orang Mukmin
untuk memintakan ampun bagi oarang-oarang Mukmin yang benar. (Muhammad: 19 dan
Al-Mumtahanah: 12)
c) Allah melarang Nabi Shallallahu
Alaihi wa Salam dan kaum Mukminin menyalati jenazah orang-orang munafiq dan
melarang berdiri (mendoakan) di kuburnya. (At-Taubah: 4)
d) Allah melarang Nabi Shallallahu
Alaihi wa Salam dan orang Mukmin bergabung dengan kaum munafiqin dalam
berperang dan melarang mereka ikut berperang. (At-Taubah: 82)
Manhaj Islam adalah mengobarkan
semangat jihad kaum Mukmin secara umum dan mendorong mereka untuk berperang
melawan orang kafir, sebagaimana firman Allah,
“maka
berperanglah kamu pada jalan Allah. Tidaklah kamu di bebani, melainkan dengan
kewajiban kamu sendiri. Kobarkanlah semmangat para Mukmin (untuk berperang).
Mudah-mudahan Allah menolak serangan orang-orang yang kafir itu. Allah amat
besar kekuatan dan amat keras siksaan (Nya).” (An-Nisaa’:
84)
Jihad
secara bahasa adalah kata benda dari kata jahada, dari kata jahd artinya
kekuatan dan kesulitan. Allah Ta’ala berfirman,
.....وَجَاهِدُوافِي
اللهِ حَقَّ جِهَادِهِ
“Dan
berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya...”
(Al-Hajj: 78)
Di abad yang lalu, pada zaman
Rasulullah yang paling nampak adalah peperangan senjata. Tapi di zaman ini
sebenarnya macih ada peperangan, namun peperangannya adalah “perang
pendapat,perang aqidah,perang keyakinan”. Kita tidak menyadari itu semua,
sehingga sebagian orang yang tidak memiliki dasar pegangan yang kuat, pasti
akan termakan oleh omongan dan siasat-siasat mereka yang diramu sedemikian rupa
sehingga kelihatan haq pada batin penyimaknya. Dengan cara itulah mereka
mengambil fikiran dan hati orang-orang Muslim.
Terjadilah apa yang terjadi .
setelah pembelajaran Islam di IAIN atau perguruan tinggi Islam di Indonesia
telah diprogramkan model study pemikiran Islam dari Barat, akibatnya menghasilkan
epistemologi yang salah. Manhaj Salafussalih tidak lagi di jadikan landasan
dalam pemahaman Islam, namun hanya berlandaskan pada pemikiran logika itu
sendiri, entah salah entah benar. akibatnya, menjadi bumeranglah bagi umat
Islam dan keilmuan Islam, sebab para Alumninya telah menjadi orang yang tak
malu berpikiran nyleneh alias aneh.
Di antara para sarjana bahkan tokoh
Islam justru bekerjasama dengan para pemangsa Muslim yang ingin memurtadkan
para Mukminin dan Muslimin. Pada dasarnya aktivis pemurtadan berada dalam satu
rahim, yaitu orientalis-orientalis juga .
Yang
terjadi telah digambarkan di Al-qur’an,
1. Upaya-upaya orang-orang Ahli Kitab
(Yahudi dan Nasrani) untuk memurtadkan umat Islam.
“Sebahagian
besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada
kekafiran setelah kamu beriman karena dengki yang (timbul) dari diri mereka
sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran.” (Al-Baqarah:
109)
2. Orang munafiq berusaha menghalangi
tegaknya syari’at Allah.
“apabila
dikatakan kepada mereka, ‘Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah
turunkan dan kepada hukum Rasul’, niscaya kamu lihat ornag-orang munafiq
menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.” (An-Nisaa’:
61)
Setelah
ketemu bahwa akar permasalahannya yang tebesar terletak pada sistem pendidikan
Islam yang salah, yaitu sistem yang dirancang oleh orientalis untuk merancukan
pemahaman Islam yang sebenarnya, maka jalan keluarnya adalah mengembalikaan
sistem pendidikan Islam pada manhaj yang benar. Yaitu, pemahaman Al-Qur’an dan
sunah Nabi merujuk kepada manhaj yang telah ditempuh oleh generasi awal Islam (shabat Nabi, tabi’in, dan tabi’it tabi’in)
yang telah diakui oleh Rasulullah sebagai generasi terbaik.
Setelah
kita mengetahui bahaya yang sangat mengancam dan bahkan telah menusuk jantung
umat Islam, jadi kita buang sistem pendidikan yang telah dibelokkan secara
terprogram rapi oleh kafirin orientalis ini.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
“...Dan
janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan...” (Al-Baqarah:
195)
Peringatan dari Nabi Shallallahu
Alaihi wa Salam yang berkaitan dengan pembahasan ini,
كَعْبِ بْنِ عِيَاضٍ
قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ :
إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَإِنَّ فِتْنَةَ أُمَّتِي المَالُ
“Diriwayatkan dari Ka’ab bin Iyadh, ia berkata, “ Aku
mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Sesungguhnya bagi
setiap umat ada fitnah/ ujianya, dan sesungguhnya ujian umatku adalah harta’.” (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi)
Kesimpulan global :
Ø Dikala
pemurtadan dilancarkan oleh kelompok pendeta dengan kristenisasi yang memakai
epistemilogi yang juga siasat orientalis Barat, maka didukunglah oleh alumni pendidikan Islam.
Umat
Islam dan Islam menjadi sasaran mangsa oleh para aktivis pemurtadan ,
seharusnya ditolong oleh alumni pendidikan tinggi Islam, namun kenyataannya
malah sebaliknya.
Ø
Disinilah ujian berat bagi para pejuang yang
menghadapi kedengkian dan kebencian orang-orang kafir, di saat yang sangat
sulit.
Ø
Tapi Allah tetap akan menyempurnakan nur-Nya, walaupun
dibenci oleh orang-orang kafir. Dan Allah tetap menugaskan orang-orang yang
membela kebenaran tanpa memperdulikan cemoohan orang yang mencemoohnya sampai
tiba hari Kiamat.
Daftar Pustaka
1.
Al-Qur’an dan Tafsirnya, Depag RI, 1985/1986, juz 28
2.
Tafsir
Ibnu Katsir, jiliid 4, hal 394
3.
Hartono
Ahamad Jaiz, Jejak Tokoh Islam Dalam Kristenisasi, Jakarta, 2004-2005
