.

Pemurtadan dan Kristenisasi

Rabu, 14 Mei 2014

Menyikapi  Pemurtadan & Kristenisasi
P E N G A N T A R
          Pemurtadan dan kristenisasi merupakan satu masalah besar. Dihancurkannya pendidikan islam lewat sistem buatan orientalis. Mereka itu hakikatnya bukan sekedar memusuhi umat islam, tetapi adalah memusuhi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Segencar dan sehebat apapun, mereka akan dilibas oleh kekuatan Allah Yang Maha Kuat. Oleh karena itu, artikel ini hanya sekedar mengingatkan kepada umat Islam, jangan sampai lemah.
janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (Ali Imran: 139)
          Mengingatkan sesama muslim adalah tujuan kami, harapannya akan tercipta suasana kesadaran yang pas, yang kemudian akan tepat dalam melangkah. Mudah-mudahan Allah Subhanahu Wa Ta’ala meridhai, sehingga bermanfaat bagi kami,bagi keluarga seiman dan setaqwa, serta umat Islam pada umumnya. Amiin.


A.    Munafiq
          Orang minafiq adalah orang yang menampakkan dirinya sebagai orang beriman namun sebenarnya memendam kekafiran dan rasa benci terhadap Islam di dalam hati. Mereka di akhirat nanti akan berada di tingkatan paling bawah dari neraka, sebagaimana firman Allah : “sesungguhnya orang-orang munafiq itu (ditempatkan) pada tingkatan paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.”(An-Nisaa’: 145)
          Imam Ibnu Katsir menjelaskan, “Allah Ta’ala berfirman dengan mengingkari kaum munafiq dalam persahabtan di dalamn batin dengan orang-orang kafir, sedangkan mereka orang-orang (munafiq) pada perkaranya itu sendiri tidak bersama kafirin dan tidak pula bersama Mukminin. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,
mereka (orang munafiq) dalam keadaan ragu-rgu antara yang demikian (iman atau kafir). Barang siapa  yang disesatkan Allah, maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya.”(An-Nisaa’: 143)

       Dalam firman Allah ini, “Tidaklah kamu perhatiakan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman?” yakni, orang-orang Yahudi yang dijadikan pemimpin dan teman akrab oleh orang-orang munafiq dalam batinnya. Allah berfirman, orang-orang itu bukan dari golngan kamu dan bukan pula dari golongan mereka.” Artinya, mereka yang munafiq itu sebenarnya bukanlah termasuk golonganmu wahai ornag-orang yang beriman, dan tidak pula termasuk golongan Yahudi yang mereka jadikan pemimpin atau teman akrab itu [1]
       Kaum munafiq adalah musuh terbesar Islam yang sangat berbahaya bagi kaum Muslimin, diantara tindakan mereka :
1.        Yang paling berbahaya, persekongkolan mereka dengan Yahudi dan Nasrani untuk menyerang Islam. Pada surat Al-Hasyr: 11 dan surat Al-Mujadilah: 14, di sana telah dibongkar langsung oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang kebusukan tingkah mereka.
2.        Yang paling buruk, menolak berhakim kepada syari’at Allah, tetapi berhakim kepada thaghut. Pada surat (An-Nisaa’: 60-63; An-Nur: 47-50), thaghut ialah orang yang selalu memusuhi Nabi dan kaum Muslimin. Serta orang yang menentapkan hukum secara curang menurut hawa nafsu.
“Sesungguhnya jawaban orang-orang Mukmin bila mereka dipanggil oleh Allah dan Rasul-Nya agar Rasul mengadili di antara mereka ialah ucapan, ‘kami mendengar dan kami patuh’. Dan mereka itulah ornag-orang yang beruntung.” (An-Nur: 51)
B.     Metode menghadapi orang munafiq
       Dalam surat At-Taubah disebut surat Al-Fadhihah karena surat itu isinya membongkar keburukan orang-orang munafiq, di antaranya :
1.           Tidak ikut berjihad, mereka lebih mementingkan dunia. (At-Taubah: 86-87)
2.           Mengadu domba, marah, dan memfitnah. (At-Taubah: 47-48)
3.           Mencela sistem Rasulullah dalam pembagian harat, mereka rela dan marah tergantung kepentingan dunia mereka. (At-Taubah: 58)
4.           Menyakiti Rasulullah Shalallallahu Alaihi wa Sallam. (At-Taubah: 61)
5.           Minta maaf atau keridhaan Rasulullah dengan sumpah palsu, padahal Allah dan Rasul-Nya itu yang lebih patut untuk mereka cari keridhaannya. (At-Taubah: 62)
6.           Memerintahkan kemungkaran dan mencegah kebaikan, serta pelit dalam berinfaq di jalan Allah. (At-Taubah: 67)
7.           Mengingkari janji. (At-Taubah: 75-77)
8.           Mencela dan mencibir mukminin dalam segala hal. (At-Taubah: 79)
9.           Memeandang berinfak itu suatu bentuk yang merugikan, dan mereka menunggu-nunggu datangnya marabahaya atas orang-orang Mukmin. (At-Taubah: 98)
10.       Al-Qur’an tidak menambah pada mereka, kecuali hanya menambah pada kekafiran di atas kekafiran yang telah ada pada mereka. (At-Taubah: 124-125)
11.       Berpaling dan lari dari kebenaran. (At-Taubah: 127)
Sehingga :
a)      Allah memerintahkan jihad dan bersikap keras terhadap mereka, “hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafiq itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah Neraka Jahanam. Dan itulah tempat kembali yang seburuk-buruknya.” (At-Taubah: 73).
Sementara itu Allah Subhanahu wa Ta’ala memerntahkan bersikap lunak dan hormat terhadap sesama Mukmin.
b)      Tidak memintakan ampun bagi orang-orang munafiq karena mereka tidak berhak dimintakan ampun. At-Taubah: 80 dan Al-Munaafiquu: 6)
Sebaliknya, Allah memerintahkan Nabi Shallallahu Alaihi wa Salam dan orang-orang Mukmin untuk memintakan ampun bagi oarang-oarang Mukmin yang benar. (Muhammad: 19 dan Al-Mumtahanah: 12)
c)      Allah melarang Nabi Shallallahu Alaihi wa Salam dan kaum Mukminin menyalati jenazah orang-orang munafiq dan melarang berdiri (mendoakan) di kuburnya. (At-Taubah: 4)
d)     Allah melarang Nabi Shallallahu Alaihi wa Salam dan orang Mukmin bergabung dengan kaum munafiqin dalam berperang dan melarang mereka ikut berperang. (At-Taubah: 82)
Manhaj Islam adalah mengobarkan semangat jihad kaum Mukmin secara umum dan mendorong mereka untuk berperang melawan orang kafir, sebagaimana firman Allah,
“maka berperanglah kamu pada jalan Allah. Tidaklah kamu di bebani, melainkan dengan kewajiban kamu sendiri. Kobarkanlah semmangat para Mukmin (untuk berperang). Mudah-mudahan Allah menolak serangan orang-orang yang kafir itu. Allah amat besar kekuatan dan amat keras siksaan (Nya).” (An-Nisaa’: 84)
Jihad secara bahasa adalah kata benda dari kata jahada, dari kata jahd artinya kekuatan dan kesulitan. Allah Ta’ala berfirman,
.....وَجَاهِدُوافِي اللهِ حَقَّ جِهَادِهِ
“Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya...” (Al-Hajj: 78)
Di abad yang lalu, pada zaman Rasulullah yang paling nampak adalah peperangan senjata. Tapi di zaman ini sebenarnya macih ada peperangan, namun peperangannya adalah “perang pendapat,perang aqidah,perang keyakinan”. Kita tidak menyadari itu semua, sehingga sebagian orang yang tidak memiliki dasar pegangan yang kuat, pasti akan termakan oleh omongan dan siasat-siasat mereka yang diramu sedemikian rupa sehingga kelihatan haq pada batin penyimaknya. Dengan cara itulah mereka mengambil fikiran dan hati orang-orang Muslim.
Terjadilah apa yang terjadi . setelah pembelajaran Islam di IAIN atau perguruan tinggi Islam di Indonesia telah diprogramkan model study pemikiran Islam dari Barat, akibatnya menghasilkan epistemologi yang salah. Manhaj Salafussalih tidak lagi di jadikan landasan dalam pemahaman Islam, namun hanya berlandaskan pada pemikiran logika itu sendiri, entah salah entah benar. akibatnya, menjadi bumeranglah bagi umat Islam dan keilmuan Islam, sebab para Alumninya telah menjadi orang yang tak malu berpikiran nyleneh alias aneh.
Di antara para sarjana bahkan tokoh Islam justru bekerjasama dengan para pemangsa Muslim yang ingin memurtadkan para Mukminin dan Muslimin. Pada dasarnya aktivis pemurtadan berada dalam satu rahim, yaitu orientalis-orientalis juga .
          Yang terjadi telah digambarkan di Al-qur’an,
1.      Upaya-upaya orang-orang Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) untuk memurtadkan umat Islam.
“Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran.” (Al-Baqarah: 109)
2.      Orang munafiq berusaha menghalangi tegaknya syari’at Allah.
“apabila dikatakan kepada mereka, ‘Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul’, niscaya kamu lihat ornag-orang munafiq menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.” (An-Nisaa’: 61)
  Setelah ketemu bahwa akar permasalahannya yang tebesar terletak pada sistem pendidikan Islam yang salah, yaitu sistem yang dirancang oleh orientalis untuk merancukan pemahaman Islam yang sebenarnya, maka jalan keluarnya adalah mengembalikaan sistem pendidikan Islam pada manhaj yang benar. Yaitu, pemahaman Al-Qur’an dan sunah Nabi merujuk kepada manhaj yang telah ditempuh oleh generasi awal Islam  (shabat Nabi, tabi’in, dan tabi’it tabi’in) yang telah diakui oleh Rasulullah sebagai generasi terbaik.
   Setelah kita mengetahui bahaya yang sangat mengancam dan bahkan telah menusuk jantung umat Islam, jadi kita buang sistem pendidikan yang telah dibelokkan secara terprogram rapi oleh kafirin orientalis ini.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
“...Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan...” (Al-Baqarah: 195)
Peringatan dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Salam yang berkaitan dengan pembahasan ini,
كَعْبِ بْنِ عِيَاضٍ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَإِنَّ فِتْنَةَ أُمَّتِي المَالُ
“Diriwayatkan dari Ka’ab bin Iyadh, ia berkata, “ Aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Sesungguhnya bagi setiap umat ada fitnah/ ujianya, dan sesungguhnya ujian umatku adalah harta’.” (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi)


Kesimpulan global :
Ø  Dikala pemurtadan dilancarkan oleh kelompok pendeta dengan kristenisasi yang memakai epistemilogi yang juga siasat orientalis Barat, maka didukunglah  oleh alumni pendidikan Islam.
Umat Islam dan Islam menjadi sasaran mangsa oleh para aktivis pemurtadan , seharusnya ditolong oleh alumni pendidikan tinggi Islam, namun kenyataannya malah sebaliknya.
Ø  Disinilah ujian berat bagi para pejuang yang menghadapi kedengkian dan kebencian orang-orang kafir, di saat yang sangat sulit.
Ø  Tapi Allah tetap akan menyempurnakan nur-Nya, walaupun dibenci oleh orang-orang kafir. Dan Allah tetap menugaskan orang-orang yang membela kebenaran tanpa memperdulikan cemoohan orang yang mencemoohnya sampai tiba hari Kiamat.
                                 Daftar Pustaka
1.      Al-Qur’an dan Tafsirnya, Depag RI, 1985/1986,  juz 28
2.      Tafsir Ibnu Katsir, jiliid 4, hal 394
3.      Hartono Ahamad Jaiz, Jejak Tokoh Islam Dalam Kristenisasi, Jakarta, 2004-2005



[1] Tafsir Ibnu Katsir, jiliid 4, hal 394
Share this article :
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. collections - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Inspired by Sportapolis Shape5.com
Proudly powered by Blogger