.
Diberdayakan oleh Blogger.
ALT/TEXT GAMBAR ALT/TEXT GAMBAR

ILMU AQSAML QUR’AN

Selasa, 20 Mei 2014

ILMU AQSAML QUR’AN

I.              PEMBAHASAN

    A.    Pegertian Aqsamil Quran
Menurut bahasa, aqsam merupakan lafal jamak dari kata qasam. Sedangkan kata qasam sama artinya dengan kata halaf  dan yamin, karena memang satu makna yaitu berarti sumpah. Sumpah dinamakan dengan yamin karena orang Arab kalau bersumpah saling memegang tangan kanan masing-masing.
 Qasam dan yamin merupakan sinonim yang didefinisikan untuk memperkuat maksud sesuatu dengan menyebutkan sesuatu yang lain yang memposisikan posisi yang lebih tinggi.[1]
Menurut istilah qasam diberi definisi sebagai berikut: “Sumpah ialah mengikatkan jiwa untuk tidak melakukan sesuatu perbuatan atau untuk mengerjakannya, yang diperkuat dengan sesuatu yang diagungkan bagi orang yang bersumpah, baik secara nyata ataupun secara keyakinan saja.”
Sumpah itu dalam ucapan sehari-hari merupakan salah satu cara menguatkan pembicaraan yang diselipi dengan persaksian/pembuktian yang mendorong lawan pembicara untuk bisa mempercayai/ menerimanya. Sebab, pembicaraan yang diperkuat dengan sumpah itu, berarti sudah dipersaksikan di depan Tuhan.
Bentuk sumpah itu tidak hanya terdapat dalam Al Quran saja, juga tidak hanya dalam bahasa Arab, melainkan umum dan terdapat dalam kitab suci serta dalam segala bahasa di dunia, baik Arab, Inggris, Perancis, Urdu dan sebagainya termasuk pula dalam bahasa Indonesia.
Dr. Bakri Syekh Amin dalam buku At Ta’birul Fanni Fil Quran menjelaskan beberapa bentuk sumpah yang biasa terjadi dikalangan orang Arab, sebagai berikut: Dengan bentuk salam-salaman tangan kanan mereka, dengan bentuk memercikkan minyak wangi ke tangan atau pakaian mereka, dengan bentuk saling mengikatkan tampar yang satu kepada yang lain, dengan bentuk tekad/nazar dan dengan bentuk-bentuk yang lain.[2][i]
Orang yang pertama menyusun Ilmu Aqsamil Quran ini ialah Imam Ibnu Al Jauziyah (wafat 751 H.) yang menulis kitab At Tibyan Fi Aqsamil Quran.

    B.     Rukun-Rukun Qasam
            Sighat qasam yang asli itu terdiri dari tiga rukun yaitu:
1.    Harus ada fi’il qasam yang di muta’addikan dengan huruf  ba’.
Dalam percakapan sehari-hari atau dalam ayat al Quran, sumpah itu tidak terlalu lengkap mencakup  rukun tersebut. Kadang-kadang fi’il qasamnya dibuang/tidak disebutkan. Tetapi dalam Al Quran, penggunaan huruf ba’ ini hanya terjadi jika fi’il qasamnya disebutkan. Contohnya seperti dalam ayat 53 surat An Nur:
وَاَقْسَمُوْا بالله جَهْدَ اَيْمَانِهِمْ (النور:35 )
Bahkan terkadang huruf ba’ itupun diganti dengan wawu, seperti surat Al lail ayat 1:
والّيْلِ اِذَا يَغْشى (اليل: 1)
Atau diganti dengan huruf ta’, seperti dalam surat Al Anbiya’ ayat 57:
تَالله لاَ كَيْدَنَّ اَصْنَامَكُمْ (الانبياء:57)
Sumpah ada juga yang menggunakan huruf wau. Sumpah yang menggunakan wau ini tidak perlu menggunakan lafad aqsama, ahlafa. Sebaliknya huruf itu harus digunakan kata yang jelas, bukan pengganti.[3]
2.    Harus ada muqsam bih (penguat sumpah), yaitu sumpah itu harus diperkuat sesuatu yang diagungkan oleh yang bersumpah. Misalnya dengan menggunakan lafal Allah.


§  Keadaan Muqsam Bih
Dr. Bakri Syekh Amin dalam buku At Ta’bir Alfan fil Quran menceritakan bahwa kebiasaan sumpah orang-orang arab jahiliyah yang selalu memakai muqsam bih selain Allah, misalnya dengan umurnya, kakeknya, hidupnya, kepala dan sebagainya.  Maksud sumpah orang Arab Jahiliyah tersebut adalah untk memuliakan hal-hal yang dijadikan muqsam bih itu. Menurut kebiasaan, mereka memang memuliakan hal tersebut. Sejalan dengan kebiasaan orang Arab itulah, dalam Al Quran juga kadang-kadang terdapat qasam seperti qasam orang Arab Jahiliyah. Misalnya yang terdapat dalam surat Al Hijr ayat 72:
لَعَمْرُكَ أَنَّهُمْ لَفِي سَكْرَتِهِمْ يَعْمَهُوْنَ (الحجر:72)
Padahal menurut peraturan muqsam bih, sumpah itu seharusnya memakai nama Allah SWT, Dzat atau sifat-sifat-Nya, terutama bagi sumpah manusia. Sebab ada larangan bersumapah dengan muqsam bih selain Allah, yang dihukumi musyrik.  Hal itu berdasarkan hadits riwayat Umar:
مَنْ خَلَفَ بِغَيْرِ الله فَقَدْ كَفَرَ اَوْ شَرَكَ (رواه الترميذي)
Artinya: barang siapa bersumpah dengan selain Allah, maka berarti dia telah kafir atau musyrik (H.R. Tirmdzi)
Memang bagi Allah boleh bersumpah dengan apa saja. Sebab, muqsam bih itu harus berupa sesuatu yang diagungkan oleh yang bersumpah. Sedang bagi Allah yang Maha Agung tidak ada yang harus diagungkan oleh-Nya. Sehingga dia boleh bersumpah dengan Dzat-Nya ataupun makhluk-Nya, tetapi tidak untuk mengagungkan makhluk itu. Melainkan supaya manusia mengerti bahwa makhluk/benda yang dijadikan muqsam bih Allah SWT. itu adalah benda yang penting dan besar artinya.
§  Macam-macam Muqsam Bih dalam Al Quran
Ada 7 macam muqsam bih dalam Al Quran:
a)      Dengan Dzat Allah atau sifat-sifat-Nya, terdapat dalam tujuh ayat sebagai berikut:
ü Surat Maryam ayat 68
ü Surat Al Hijr ayat 92
ü Surat An Nisa ayat 65
ü Surat Al Ma’arij ayat 40
ü Surat At Taghabun ayat 7
ü Surat As Saba’ ayat 3
ü Surat Yunus ayat 53
b)      Dengan kehidupan Nabi Muhammad SAW. Terdapat dalam surat Al Hijr ayat 72.
c)      Dengan hari kiamat, seperti pada surat Al Qiyamah ayat 1.
d)     Dengan Al Quran, seperti surat Yasin ayat 1-3.
e)      Dengan makhluk berupa benda-benda angkasa (Al uluwwiyyat), seperti pada surat An Najm ayat 1-2.
f)       Dengan makhluk yang berupa benda-benda bumi (bissufliyyat) seperti pada surat At Tin ayat 1.
g)      Dengan waktu, seperti waktu dhuha. Contohnya surat Ad Dhuha ayat 1.
3.    Harus ada muqsam ‘alaihi (berita yang diperkuat dengan sumpah itu), yaitu ucapan yang ingin diterima/dipercaya orang yang mendengar, lalu diperkuat dengan sumpah tesebut.


§  Keadaan Muqsam Alaihi
Muqsam Alaihi adalah berita yang dikuatkan dengan sumpah atau disebut juga jawaban sumpah. Ada empat hal yang harus dipenuhi muqsam ‘alaihi, yaitu:
a)      Muqsam ‘alaihi/berita itu terdiri dari hal-hal yang baik, terpuji atau hal-hal penting.
b)      Muqsam ‘alaihi itu sebaiknya disebutkan dalam setiap bentuk sumpah. Jika muqsam ‘alaihii tersebut kalimatnya terlalu panjang, maka muqsam ‘alaihi boleh di buang.
c)      Jika jawab qasamnya berupa fi’il madhi mutaharrif yang positif (tidak dinegatifkan), maka harus dimasuki huruf  “lam” dan “qad”.
d)     Materi isi muqsam ‘alaihi itu bisa bermacam-macam, terdiri dari berbagai bidang pembicaraan yang baik-baik dan penting-penting.
Dalam  Al Quran, Muqsam ‘alaihi terdiri dari hal-hal berikut:
a)      Pokok-pokok  keimanan dan ketauhidan.
b)      Penegasan bahwa Al Quran itu adalah benar-benar mulia.
c)      Keterangan bahwa Rasulullah SAW itu adalah benar-benar utusan Allah.
d)     Penjelasan tentang balasan, janji dan ancaman yang benar-benar akan terlaksana.
e)      Keterangan tentag ikhwal manusia.

    C.    Macam-Macam Aqsamil Quran
Dilihat dari segi fi’ilnya, qasam Al Quran itu ada dua macam, sebagai berikut:
a)      Qasam Dhahir
Qasam Dhahir adalah sumpah yang di dalamnya disebutkan fi’il qasam dan muqsam bihnya. Dan diantaranya ada yang dihilangkan fi’il qasamnya, sebagaimana pada umumnya karena dicukupkan dengan huruf jarr berupa wawu, ba’ dan ta’. Contohnya seperti dalam surat Al Qiyamah ayat 1-2 berikut:
لاَ أُقْسِمُ بِيَوْمِ القِيَمَةِ. ولاَ اُقْسِمُ بالنَّفْسِ الَّوَّامَةِ.
b)      Qasam Mudhmar
Qasam Mudhmar adalah sumpah yang di dalamnya tidak dijelaskan fi’il qasam dan tidak pula muqsam bih, tetapi ia ditunjukkan oleh “lam taukid” yang menunjukkan sebagai jawaban qasam. Contohnya seperti dalam surat Ali Imran ayat 186:
لَتُبْلَوُنَّ فِي اَمْوَلِكَمْ وَ اَنْفُسِكُمْ (ال عمران:186 )
Dilihat dari segi muqsam bihnya, maka qasam ada tujuh macam:
a)      Qasam dengan Dzat Allah SWT atau sifat-sifat-Nya yang terdapat pada 7 ayat, diantaranya seperti dalam surat Al Hijr ayat 92.
b)      Qasam dengan perbuatan-perbuatan Allah SWT. Seperti dalam surat As Syams ayat 5.
c)      Qasam dengan yang dikerjakan Allah SWT, seperti dalam surat Ath Thur ayat 1.
d)     Qasam dengan malaikat-malaikat Allah SWT, seperti dalam surat An Nazia’at ayat 1-3.
e)      Qasam dengan Nabi Allah SWT, seperti dalam surat Al Hijr  ayat 72.
f)       Qasam dengan makhluk Allah SWT, seperti dalam surat At Tin ayat 1-2.
g)      Qasam dengan waktu, seperti dalam surat Ad Dhuha ayat 1-2.

    D.    Bentuk-bentuk Aqsamil Quran
a.       Bentuk  pertama
Sebagaimana sudah disebutkan, bahwa sighat (bentuk) yang asli dalam sumpah itu ialah bentuk yang terdiri dari tiga unsur, yaitu fi’il sumpah ynag dimuta’addikan dengan “ba’” muqsam bih dan muqsam alaih. Kemudian fi’il yang dijadikan sumpah itu bisa lafal aqsamu, ahlifu atau asyhidu yang semuanya berarti “ bersumpah”.
b.      Bentuk kedua: ditambah huruf la
Kebiasaan orang yang bersumpah itu memakai berbagai macam bentuk, yang berarti merupakan sighat-sighat yang tidak asli lagi. Begitu pula di dalam Al Quran, banyak terdapat juga sighat-sighat sumpah lain, disamping yang asli. Mislanya sighat yang ditambah huruf  “la” di depan fi’il qasamnya. Contohnya seperti dalam surat Al Insyiqaq ayat 16:
فلاَ اُقْسمُ بِالشَّفَقَ (الانشقاق:16)
c.       Bentuk ketiga: ditambah kata Qul Bala (قل بلي)
Sighat ini adalah untuk membantah atau menyanggah keterangan yang tidak benar. Tambahan “Qul Bala” itu adalah untuk melengkapi ungkapan kalimat yang sebelumnya, yang berisi keterangan yang tidak betul, yaitu kalimat:
 كَفَرُوْا لاَ ثَاءْثِيْنَ السَّاعَة الَّذِيْنَ وَقَالَ
Sehingga Allah memerintahkan supaya dijawab dengan positif bahwa pasti datang hari kiamat itu. Seperti dalam surat As Saba ayat 3:
قُلْ بَلي وَرَبِّي لَتُبْعَثُنَّ
d.      Bentuk keempat: ditambah kata-kata Qul Iiy (قل اِيْ)
Kadang-kadangsumpah dalam Al Quran itu ditambah dengan kata-kat “ Qul Iiy” yang berarti benar. Seperti dalam surat Yunus ayat 53:
قُلْ اِيْ وَرَبِّي اِنَّهُ لَحَقْ(يونس:53)

    E.     Faedah Qasam
        Qasam merupakan salah satu penguat perkataan yang masyhur untuk memantapkan dan memperkuat kebenaran sesuatu di dalam jiwa. Quran al Karim diturunkan untuk seluruh manusia dan manusia mempunyai sikap yang bermacam-macam terhadapnya. Maka dengan adanya qasam tersebut sedikitya diperoleh faedah-faedah sebagai berikut:
a)      Berita itu sudah sampai pendengar dan kalau dia bukan orang yang apriori menolak, tentunya berita tersebut sudah diterima dan dipercaya karena sudah diperkuat dengan sumpah, apalagi memakai nama Allah SWT.
b)      Pemberi berita sudah merasa lega, karena telah menaklukkan pendengar dengan cara memperkuat berita-beritanya dengan sumpah atau dengan beberapa taukid (penguat). Hal ini berbeda sebelum dia bersumpah, jiwanya masih merasa kecewa, karena beritanya belum diterima pendengar.
c)      Dengan bersumpah memakai nama Allah atau sifat-sifat-Nya, menurut Dr. Bakri Syekh Amin berarti memuliakan atu mengagungkan Allah SWT. karena telah menjadikan nama-Nya selakuDzat yang diagungkan sebagai penguat sumpahnya. Tidak memakai nama atau benda-benda lain, sesuai dengan peraturan dan definisi sumpah itu sendiri.

II.                Kesimpulan
           Dari pembahasan dapat ditarik kesimpulan bahwa Sumpah ialah mengikatkan jiwa untuk tidak melakukan sesuatu perbuatan atau untuk mengerjakannya, yang diperkuat dengan sesuatu yang diagungkan bagi orang yang bersumpah, baik secara nyata ataupun secara keyakinan saja.
Rukun-rukun yang ada dalam aqsam Al quran adalah fi’il qasam, muqsam bih dan muqsam alaih. Huruf-huruf yang digunakan dalam aqsam, pertama huruf wau dan huruf ba’. Sumpah yang menggunakan huruf wau tidak perlu menggunakan lafad aqsama, ahlafa. Sumpah yang menggunakan huruf ba’ bisa disertai dengan kata yang menunjukkan sumpah dan boleh tidak menyertakan sumpah.
Bentuk-bentuk aqsam Al Quran ada yang menggunakan bentuk asli, ditambah dengan huruf La, ditambah kata Qul Bala (قل بلي), ditambah kata-kata Qul Iiy (قل اِيْ). Aqsam Al Quran ini berfungsi sebagai penguat (ta’kid) ucapan agar pendengar mudah diterima dan dipercaya.
           Dalam qasam juga terdapat faedah-faedah diantaranya adalah berita yang sudah sampai pendengar, dan dia bukan orang yang apriori, berita itu sudah diterima dan dipercaya karena sudah diperkuat dengan sumpah. Pemberita berita itu sudah merasa lega, karena telah menaklukkan pendengar dengan cara memperkuat berita dengan sumpah. Dan dengan bersumpah menggunakan nama Allah atau sifat-sifat-Nya berarti memuliakan atau mengagungkan Allah SWT. karena telah menggunakan nama-Nya selaku Dzat yang diagungkan sebagai penguat sumpah.








[1] Ahmad Izzan, Ulumul Quran, Tafakur, 2005, hal. 225.
[2] Abdul Jalal, Ulumul Quran, Dunia Ilmu, 1998, 364.
[3] Ahmad Izzan, Ulumul Quran, Tafakur, 2005, hal. 225.

Gif

Senin, 19 Mei 2014


wallpaper



wallpaper



wallpaper


wallapaper


wallpaper




Wallpaper

arif_collections (A.C.)

Wallpaper


Hakekat Segala Sesuatu

Minggu, 18 Mei 2014


PENDAHULUAN
Sekilas Tentang Plato Dan Aristoteles :
            Plato merupakan filosofBiografi Thomas Kuhn . Read more ... » YunaniSudut Pandang Filosofis Tentang Demam Korea Pop di Indonesia. Read more ... » yang menghasilkan banyak karya, ada yang berupa karya sendiri mau pun karya yang dibuatkan oleh para muridnya. Cita-cita Plato dahulunya ingin menjadi seorang politikus, tetapi dikarenakan kejadian bahwa SocratesIroni Socrates. Read more ... » mati dihukum minum racun, pupus sudah cita-citanya. Plato mengurungkan niatnya menjadi seorang politikus dikarenakan Socrates itulah yang merupakan gurunya selama 8 tahun (Hadiwijono, 38:2005).
            Plato dilahirkan di Athena pada tahun 472 SM dan ia pun merupakan bangsawan. Ia keturunan bangsawan dikarenakan ayahnya yang bernama Ariston merupakan keturunan rajaNegara Ideal Plato dan Naruto. Read more ... » Athena dan raja Messenia, sedangkan ibunya juga mendukung kategori kebangsawanan Plato dikarenakan ibunya yang bernama Perictone memiliki hubungan baikMakna Moralitas dan Lima Ciri Standar Moral. Read more ... » dengan pembuat hukumMartina Melaporkan Komnas Perlindungan Anak ke Polisi. Read more ... » yang juga seorang negarawan bernama Solon(Inet, 1b). Plato juga meninggal di kota yang sama ketika ia dilahirkan yaitu Athena pada tahun 347 SM (Delfgaauw, 19:1992).
Ajaran Plato dapat dikategorikan menjadi tiga besar yaitu: ajaran tentang ideMengajari Manusia Berpikir Secara Filosofis. Read more ... », ajaran tentang pengenalan, dan ajaran tentang manusiaEtika Teknologi dan Peradaban Umat Manusia. Read more ... ». Ajaran-ajaran ini didapatkan dari bukuMata Kuliah Filsafat: Hermeneutika. Read more ... »-buku yang telah ditulisnya, serta buku berisi tentang dialogIroni Socrates. Read more ... » Plato yang disusun oleh orang lain atau bisa jadi oleh muridnya.
2.      Aristoteles
Aristoteles (384-322 SM) ialah filosof besar di zaman klasik sesudah Sokrates dan Plato. Aristoteles berasal dan dilahirkan di Stagira (wilayah Yunani Utara sekitar Makedonia). Saat berumur 18 tahun, ia dikirimkan oleh ayahnya untuk belajar di Akademia milik Plato selama kurang lebih dua puluh tahun yang berlokasi di Athena.Dan ia pun menjadi salah satu murid terbaik di Akademia saat itu.
Setelah sepeninggalan Plato, Aristoteles berpindah dan membuat sekolah di Assos (Asia kecil). Kemudian tahun 342 SM filosof agung ini kembali ke kota kelahirannya di Makedonia untuk menjadi pendidik pangeran Alexander Agung. Setelah Alexander sudah dirasa mampu oleh ayahnya untuk menggantikan kedudukan dalam memimpin negara yang nantinya akan berpengaruh dalam periode Helenisme, Aristoteles kembali ke Athena dan mendirikan sekolah Lykeion yang beraliran Peripatetic di sana.Sejak saat itu Aristoteles menjadi filosof besar di Athena yang menjadi pusat kebudayaan Yunani ketika itu.
PEMBAHASAN
A.      Tentang Ide dan Pengenalan
Plato beropini bahwa ide itu lebih nyata dibanding semua
fenomena alam.Sehingga mula-mula muncul ide ayam daripada semua ayam dan telur di dunia indera.Namun, Aristoteles menyanggahnya dalam masalah ide.Dia memang setuju kalau ayam itu selalu berubah dan mengalami kematian.Sedangkan bentuknya itu kekal dan abadi.Tetapi bagi Aristoteles, ide ayam itu hanya sebuah konsep yang dibentuk oleh manusia setelah melihat sejumlah kuda di dunia indera.Dan ide itu tidak memiliki eksistensi tersendiri.
Mudahnya, bagi Aristoteles ide itu ada dalam benda-benda sebab mereka merupakan ciri khas dari benda-benda tersebut.Sebagaimana tubuh dan jiwa dalam pandangan Aristoteles yang bisa bersatu dan tidak dapat dipisahkan.
Tingkat realitas tertinggi bagi Plato adalah sesuatu yang kita pikirkan dengan akal kita.Dan semua benda di dunia alam ini hanya semata-mata cerminan dari benda-benda di dunia ide yang diidentikan dengan jiwa manusia.Dan bagi Aristoteles, tingkat realitas tertinggi adalah sesuatu yang kita lihat dengan indera kita.Benda-benda yang ada di jiwa manusia semata-mata hanya cerminan dari objek-objek alam. Makanya ia menganggap Plato berpikiran ranah imajinasi.
Plato sebelumnya telah memberi solusi terhadap persoalan tentang sesuatu yang berubah dan sesuatu yang tetap.  Persoalan ini merupakan perlawanan pemikiran antara Herakleitos dan Parmenides. Plato memberi solusi dengan mengemukakan gagasan bahwa ada sesuatu yang tetap dan ada pula yang berubah. Dari sini Plato sekaligus menyetujui pendapat keduanya serta menambahkan pendapat Parmenides bahwa sesuatu yang tetap kekal tidak berubah itu adalah ide atau “idea”.
Plato memiliki pandangan lebih tentang hakikat atau esensi dari segala sesuatu dibandingkan dengan Socrates. Plato meneruskan pendapat Socrates bahwa hakikat segala sesuatu bukan hanya dapat diketahui melalui keumuman, melainkan hakikat dari segala sesuatu itu nyata dalam ide. Solusi pertentangan Herakleitos dan Parmenides, dikemukakan Plato dengan mengkategorikan dua macam duniaMata Kuliah Filsafat: Hermeneutika. Read more ... », yaitu dunia yang serba berubah, serba jamak, dan tiada hal yang sempurna, sifatnya inderawi. Lalu dunia ide, yang merupakan dunia tanpa perubahan, tanpa kejamakan dalam artian bahwa (yang baik hanya satu, yang adil hanya satu, dan sebagainya) dan bersifat kekal.
Ide-ide di dunia hadir dalam benda yang kongkrit, semisal ide manusia ada pada tiap manusia, ide kucing ada pada tiap kucing. Benda-benda tersebut juga mengambil peran dan berpartisipasi dengan ide-idenya. Misalnya ada kucing sakti, kucing kampung, kucing peliharaan. Dalam contoh tersebut terdapat ide kucing, ide sakti, ide kampung, ide peliharaan. Ide tersebut berfungsi sebagai contoh benda-benda yang kita amati di dunia ini (Hadiwijono, 41:2005).
Aristoteles berpendapat bahwa seluruh pemikiran dan gagasan kita masuk ke dalam kesadaran kita melalui apa yang pernah kita dengar dan lihat. Namun kita juga mempunyai kekuatan akal bawaan bukan ide bawaan seperti yang diyakini Plato.Tetapi kita mempunyai kemampuan bawaan untuk mengorganisasikan seluruh kesan inderawi ke dalam kategori-kategori dan kelompok-kelompok. Dengan cara inilah konsep-konsep benda timbul.
Telah disinggung, bahwa di dalam dunia idea tiada kejamakan, dalam arti ini, bahwa “yang baik” hanya satu saja dan seterusnya, sehingga tiada bermacam-macam “yang baik”. Akan tetapi ini tidak berarti bahwa dunia ide itu hanya terdiri dari satu ide saja, melainkan ada banyak ide. Oleh karena itu dilihat dari segi lain harus juga dikatakan bahwa ada kejamakan, ada bermacam-macam ide, ide manusia, binatangFilsafat Anti Hak Terhadap Binatang. Read more ... », dan lain-lainnya. Ide yang satu dihubungkan dengan ide yang lain, umpamanya seperti yang telah dikemukakan: ide bungaManusia dan Bahasa Bunga. Read more ... » dikaitkan dengan ide bagus, ide api dihubungkan dengan ide panas, dan sebagainya. Hubungan antara ide-ide ini disebut koinonia (persekutuan). Di dalam dunia ide itu juga ada hierarki, umpamanya: ide anjing termasuk ide binatang menyusui, termasuk ide binatang, termasuk ide makhluk dan seterusnya. Segala ide itu jikalau disusun secara hierarkis memiliki ide “yang baik” sebagai puncaknya, yang menyinari segala ide.
Sedangkan orang yang baik, menurut Aristoteles, adalah orang yang baik secara seluruhnya, bukan hanya diwaktu-waktu tertentu, seperti sekarang baik dan di waktu berikutnya tidak.
B.       Tentang Manusia Dan  Fungsi Dari Manusia
Menurut Plato ada dua hal yang utama dalam manusia yaitu jiwaNeopythagorisme. Read more ... » dan tubuh, keduanya merupakan kenyataanDua Pandangan Filosofis Tentang Kenyataan. Read more ... » yang harus dibedakan dan dipisahkan. Jiwa berada sendiri. Jiwa adalah sesuatu yang adikodrati, yang berasal dari dunia ide dan oleh karenanya bersifat kekal, tidak dapat mati (Hadiwijono, 43:2005).
Menurut Aristotle, tujuan dari manusia adalah tidak hanya “sekedar hidup belaka”,  Dia berpendapat lebih jauh lagi bahwa, “apabila fungsi dari manusia adalah sebuah aktivitas dari jiwa yang mengikuti prinsip rasional…. Maka kebaikan manusia muncul menjadi aktivitas jiwa yang berdasar pada kesempurnaan/kemuliaan (virtue).”
Seseorang adalah cerminan dari jiwanya. Aristoteles mengatakan bahwa jiwa itu dibagi menjadi dua bagian, yakni yang rasional dan irrasional.
Bagian yang irrasional disusun dari dua subbagian.Yang pertama adalah sebagaimana tumbuhan, yakni terdaoat komponen tumbuhan yang memberikan kita kapasitas untuk mengambil dan menyerap nutrisi dan memenuhi kehidupan biologis kita. Yang kedua adalah sama dengan hewan, ada komponen appetitive yang memberikan kita kapasitas untuk mengalami hasrat yang membuat kita bergerak cepat untuk memenuhi hasrat itu. Kedua jiwa irrasional ini cenderung berlawanan dan menentang jiwa yang rasional.Konflik di antara jiwa rasional dan jiwa irrasional lah yang memunculkan masalah mengenai moral juga baik dan buruk.
Karena Moral juga meliputi tindakan. Tindakan-tindakan particular yang diartikan di sini merupakan control jiwa rasional dan petunjuk untuk bagian jiwa yang irrasional .
Plato percaya bahwa jiwa itu dipenjarakan di dalam tubuh, oleh karena itu jiwa harus dilepaskan dengan caraCara Efektif Merayu Di Tempat Kerja. Read more ... » berusaha mendapatkan pengetahuanOtoritas Sebagai Sumber Pengetahuan. Read more ... » untuk melihat ide-ide. Plato juga percaya bahwa ada pra-eksistensi jiwa dan jiwa itu tidak dapat mati. Dalam tubuh jiwa terbelenggu dan untuk melepas jiwa dari tubuh hanya sedikit orang yang berhasil (mencapai pengetahuan dan mengalami ide-ide). Sikap yang selalu terpikat pada ke-tubuh-an kongkrit inilah yang membuat sulit.








PENUTUP
Jadi,titik beda pandangannya dengan sang guru terhormat Plato bahwa ketika Plato mengatakan realitas tertinggi adalah apa yang kita pikirkan dengan akal. Dan benda-benda di alam semata-mata cerminan dari benda-benda di dunia ide belaka. Misalnya, ide sebuah ayam akan muncul lebih dahulu sebelum selanjutnya nampak ayam dalam alam nyata. Dan antara keduanya—ide ayam dan ayam—berpisah.
Sedangkan sang murid tercinta Aristotelesmengatakan bahwa benda-benda di dunia ide atau yang ia pahami adalah jiwa hanyalah sebuah cerminan dari benda-benda di alam—dunia yang nyata. Maksudnya ialah sebuah gagasan kita masuk ke dalam kesadaran kita melalui apa yang pernah kita dengar dan lihat di alam nyata. Kita tidak punyaide bawaan.Tetapi kita punya akal bawaan yang punya kemampuan untuk mengorganisasikan seluruh kesan inderawi ke dalam kategori-kategori, sehingga muncul banyak konsep.Dan akal kita awalnya kosong sampai kita mengalami sesuatu.
Ringkasnya, menurut Aristoteles ini, antara ide dan benda alam nyata tidak terpisah seperti tubuh dan jiwa.Namun ide ada di dalam benda dan merupakan ciri khas benda.Misalnya, ide ayam ada dalam ayam itu sendiri.









Hadiwijono, Dr. Harun. Sari Sejarah Filsafat Barat I. Penerbit Kanisius: Yogyakarta. 2005.

http://aprillins.com/2009/267/filsafat-plato-ide-pengenalan-jiwa-dan-raga/diakses : 20 March 2014, 10:18:59 AM

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. collections - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Inspired by Sportapolis Shape5.com
Proudly powered by Blogger